TIME FLIES

Showing posts with label Wiraga Clan. Show all posts
Showing posts with label Wiraga Clan. Show all posts

Thursday, September 2, 2010

No Title Yet

Another story. It has not finished yet, but I'm working on it.
Please enjoy :)

***


C’est parfait, ma cherié. That’s perfect’
 Chairuni Sabrina—Rui yang sedang menatap bayangannya di kaca full body menoleh mendengar suara lembut sedikit serak, menemukan sosok wanita early 40’s bersandar pada bingkai pintu kamarnya. ‘Mommy!’
Tisya Rasityo tersenyum, menghampiri anaknya, lalu mencium kening Rui. ‘Comment êtes-vous—apa kabar putri cantik mommy?’
Rui tersenyum, mengenggelamkan kepalanya lebih dalam ke pelukan lengan ibunya. Mommy wangi jeruk, parfum Chanel No. 5, juga sedikit champagne. ‘Kapan Mommy sampai? Kok nggak kasih tahu Rui kalau mau pulang?’
Tisya menyentuh hidung Rui pelan. ‘Mommy tidak pulang, cherié, hanya berkunjung. You know Mukas and me are divorced. Dimana Cira?’
Rui mendesah. Mukas—ayahnya, dan ibunya telah bercerai sejak lima tahun lalu. Mukas lebih memilih untuk tetap menjadi duda, Rui dan Cira, adiknya, tinggal di Jakarta bersamanya. Sedangkan Tisya telah beberapa kali kawin-cerai dan pindah ke Paris, menjadi editor majalah Lé Femmé-Chic, majalah fashion ternama yang telah berkali-kali menggelar fashion show sukses. ‘In her room, I think’
Tisya melepaskan pelukannya, mengambil sesuatu dari tas Kelly Hermés-nya. ‘Mendesain pakaian lagi? Fashion memang telah mendarah daging padamu dan Cira. Kenapa kamu tidak magang di majalah saja, jadi fashion stylist? Mommy dengar Poseur memiliki kualitas yang baik, dan akan lebih baik lagi kalau ada kamu di dalamnya, cherié. Selera Rui kan bagus sekali’
Rui tersenyum lebar, Mommy-nya memang bisa banget naikin moodnya kembali. Ia berjalan kearah cermin, mematut dress simple cut Alexander Wang yang dikenakannya. ‘Rui tanya ayah dulu, kan Mommy tau kalau ayah tidak suka Rui magang-magang seperti itu’
Tisya menghembuskan asap cigarette dari bibirnya, mendengus. ‘Itu salah satu alasan kenapa Mommy meminta cerai dari Mukas, cherié, your father is an overprotective man’
Rui merengut nggak suka. ‘He’s doing that for my own good. And by the way, Mommy, why do you still smoke? Mommy tau sendiri cigars nggak baik untuk tubuh, especially on your early 40’s’
Tisya tertawa. ‘Kamu membuat Mommy merasa tua, Chairuni. Sometimes we need something to get out from our hectic life, and I choose cigars. Où allez-vous? Rui mau pergi kemana? Pakai baju bagus seperti itu lagi’
Rui memalingkan wajahnya, pura-pura sibuk merapikan sedikit kerut di lengan dress-nya, padahal menyembunyikan pipinya yang bersemu pink. ‘Nggak kemana-mana’
Alis Tisya terangkat sedikit melihat tingah Rui yang tidak biasa, lalu terkekeh kecil, mengerti. ‘Kamu mau pergi nge-date, ya? Mommy benar-benar merasa tua sekarang, habis ma cherié udah tumbuh besar, menjadi gadis yang cantik sekali. Mommy ingat dulu Rui sering duduk di pangkuan Mommy. Mommy takut sebentar lagi Rui akan meninggalkan Mommy sendiri’
Rui tersentak, melotot menatap mata ibunya. ‘Mom! Pourquoi avez-vous dit cela? Why did you say that? Rui nggak akan pernah ninggalin Mommy, you know that. Dan walaupun Rui terpaksa, Mommy selalu punya Cira. Kita berdua akan selalu ada untuk Mommy. Nous avons tous deux vous aime tant—we both love you so much’
Tisya memalingkan wajahnya, tangannya dengan cepat menghapus jejak air mata yang hampir mengalir di pelupuk. ‘Well, well, of course I know that. Je bous remercie, ma cher. Thank you. And who’s the lucky guy yang akan menjadi date-mu?’
Rui memiringkan kepalanya sedikit, mengamati bagian samping dress-nya. ‘There’s something wrong with this look, don’t you think? Rui tidak tau siapa, it’s a blind date’
Rui mengenakan mini dress simple cut Missoni, shorts jeans Levi’s, sneakers putih-baby yellow-pink NIKE, dan oversized bag Gucci. Tisya tersenyum, menarik scarf Hermés yang melingkar di tas Kelly miliknya, lalu membuat pita dari scarf tersebut di leher Rui. ‘Now it looks simple, androgyny but cute. Et je n’entendis pas? Did I hear wrong? Blind date? I thought my daughter could get any boys she wants’
Rui memutar bola matanya. ‘Kan hanya untuk senang-senang, Mommy, don’t get it to serious. Lagipula cowok pilihan Alka Wiraga nggak mungkin salah’
Tisya mengangkat alisnya. ‘Wiraga? Like Farel Wiraga?’
‘Iya, Om Farel itu pamannya Alka, ayahnya Citra Falisha. Rui sama Citra Falisha satu tempat kursus piano dulu. And how did you know Farel Wiraga? Rui kira Mommy tidak tertarik sama cremé de la cremé-nya Indonesia’
Tisya tersenyum menggoda. ‘Mommy sempat bersama Farel dulu, sebelum dia pergi travelling ke Amsterdam dan bertemu Serena’
Rui melotot. ‘What? You—and Farel Wiraga? Rui dengar dia yang paling tampan diantara Wiraga brothers, ya?’
Tisya tertawa melihat kekagetan anaknya. ‘Pourquoi—kenapa? Rui kesal Mommy nggak berhasil sama Farel? Kalau begitu Mommy nggak akan bertemu Mukas dan melahirkan kamu dan Cira dong, cherié. Oui, Farel est le frère le plus beau d’entre eux—tapi semua keturunan Wiraga memang tampan, apalagi dengan mata coklat terang mereka yang khas. Tapi untuk Mommy pribadi, I prefer classic like Mukas with his deep black eyes’ Iya, Farel memang yang paling tampan diantara mereka.
Rui tersenyum lebar, melebur dalam pelukan ibunya. ‘Je t’aime, ma mère’ I love you, mother.
Tisya mengecup puncak kepala Rui. ‘Moi aussi—me too. And hurry up, don’t you have a hot date to meet? Well, I hope he’s hot’
Rui tertawa, how she missed her Mommy so damn much.

Drops Café, Jak City-Square. 14.30.

Rui memainkan iPhone ber-glitter pink di tangannya, membuka website ZARA , Forever 21, Kohl’s, juga mengirimkan jadwal latihan cheers untuk besok. Beberapa minggu lagi mereka akan mengikuti National Teen Cheerleading Competition, jadi mereka harus siap.  Rui menatap sekeliling café yang masih sepi, mendesah, lalu membuka icon message.
To : Alka Wiraga
Al, can you give me any clue who’s going to be my date? I’m nervous.
Ia mengklik send, menunggu. Rui memainkan ice cream di cup miliknya, rasa cotton candy. Ia memang suka sekali makan yang manis-manis, walaupun Mommy udah memperingatkan Rui untuk hati-hati terkena diabetes. Makanan manis juga bisa membuat gendut. Oleh karena itu ia mulai mengurangi kadar makanan manisnya, untuk kebaikan dirinya sendiri juga anggota cheerleaders yang lain. Tidak mungkin kan dia bisa berada di posisi teratas pyramid kalau bobot badannya seberat badak? iPhone-nya berbunyi, tanda message masuk.
From : Alka Wiraga
Not a thing. It’s a BLIND DATE. Get ready for surprises! J And by the way, did I read wrong? Rui didn’t get nervous. Who are you and what do you do to Rui Rasityo?
Rui tertawa, memang enak sekali ngobrol dengan cowok se-humble Alka, apalagi sifatnya yang ceria dan jahil. Mereka memang tidak bersahabat dekat karena posisi itu telah diisi oleh Kama, namun Alka adalah partner in crime-nya di kelas, juga keisengannya yang lain. And Alka’s right. Rui Rasityo didn’t get nervous. Rui menghela nafas, membetulkan letak scarf Hermés milik Mommy di  lehernya, berusaha menenangkan diri. Kemarin Alka bilang blind date-nya akan mengenakan sweater merah,  tapi yang mengenakan sweater merah hanya seorang laki-laki mungkin berumur late 20’s, not really handsome but attractive, tipikal cowok-cowok metroseksual Jakarta. Tapi tidak mungkin kan Alka memberikannya date yang berumur lumayan jauh diatasnya?
‘Chairuni?’ Rui mendongak kearah suara yang memanggil namanya, wajahnya sedikit cemberut. Ia paling tidak suka dipanggil dengan nama depannya—Chairuni terdengar begitu kampungan dan ndeso banget. ‘Yes? And don’t call me with that name ag—Teno? Ngapain elo disini?’
Ia benar-benar kaget mendapati Teno—si nerd Ketua Ekskul Mading bisa hang out di café sekeren Drops, juga di Jak City-Square. Apa dia harus mencari tempat hang out baru, mengingat para nerds sebentar lagi bakal bermunculan di depan hidungya? Rui mendengus, lalu nafasnya tertahan melihat apa yang Teno kenakan. Demi Tuhan, sweater merah! ‘WHAT?’
Teno berdecak, menarik kursi di depan Rui, lalu duduk. ‘Sepertinya gue stuck disini dengan stuck-up snob seperti lo kalau begitu’
Pipi Rui memerah, marah dan sedikit blushing. Tentu saja ia juga kesal dan marah dengan Alka yang seenaknya memasangkannya dengan nerd seperti Teno, tapi ia tidak pernah menyangka kalau Teno diluar sekolah bisa sekeren—segaul ini! Memang disekolah Teno tidak seperti para nerds yang lain, memakai kacamata dan baju culun, malah Teno termasuk most wanted boys di KHIS dengan mata coklat susu dan rahang tegasnya. Tapi bagi Rui dan para beautiful people lain, seganteng apapun cowok itu, bila dia masuk ekskul yang ‘nggak banget’, tetap saja kategorinya nerd!
Tapi kali ini berbeda, cowok itu mengenakan sweater merah, jeans, dan sneakers hitam. Keren—cool and little bit classy, cocok dengan image-nya yang pendiam. Apalagi ditambah dengan rambut hitam pekatnya yang sedikit messyoh my god, apakah gue jatuh cinta sama nerd jutek nan dingin yang ini? Rui menggeleng. ‘Huh, lo pikir gue suka duduk sama lo begini? Image gue bakal hancur, tahu’
Teno mengangkat pandangannya dari iPhone ber-casing hitam ditangannya, menatap wajah cewek-cantik-tapi-sombong yang sedang duduk di hadapannya itu. Rui tetap sama seperti yang ia lihat disekolah, typical it-girl; cantik, stylish dan unreachable. Unreachable  karena cewek itu selalu beredar dalam lingkaran pergaulan yang tinggi, cremè de la cremè-nya Kesuma Harapan. ‘Tinggal pulang saja, kan, kalau begitu?’
Rui ternganga, terlalu terkejut dengan reaksi Teno untuk bergerak. ‘Huh?’
Teno terkekeh melihat ekspresi bengong Rui yang –anehnya, untuknya— begitu lucu. Ia mengangkat iPhone-nya kedepan wajah Rui, bermaksud memfotonya. ‘Gue foto, ya? KHIS News pasti bahagia sekali kalau bisa mendapatkan foto Rui Rasityo yang sedang melongo’
Rui tersadar, tangannya spontan terjulur kedepan, berusaha menghalangi lensa iPhone itu mengabadikan wajah bengongnya yang pasti ‘nggak banget’. ‘Teno!’ Rui berteriak kecil, tangannya tanpa sengaja menyentuh cup ice cream di depannya, membuat ice cream itu jatuh dan tumpah di sweater merah Teno. ‘Shoot!’
Rui terkejut mendengar umpatan kecil Teno, segera mengambil saputangan dari dalam tasnya, meminta maaf. ‘Oh my, I’m sorry. Gue nggak sengaja! Berapa harga sweater ini? Beli dimana—I’ll go get my driver to buy a new one right away—‘
Kata-kata Rui terpotong oleh ucapan kalem tapi dingin milik Teno. ‘Nggak semua barang bisa dibeli dengan uang, princess, termasuk sweater ini’
Rui terdiam, malu. Teno memanggilnya princess, bukan untuk memuji namun untuk menyindirnya. Ia kan nggak sengaja! ‘Maaf. Sungguh, maafin gue’
Teno mendongak, tersenyum dikulum melihat wajah Rui yang terlihat begitu menyesal. Ia berani bertaruh cewek itu nggak pernah meminta maaf dengan tulus kepada orang lain, mengingat tabiatnya yang selalu merendahkan orang disekitarnya. ‘It’s okay, nggak apa-apa. Lagipula sweater ini nggak seberharga itu’
Rui menggigit bibirnya, masih sedikit ragu. Teno terkekeh geli. ‘Udahlah, nggak usah dipikirin sampai stres begitu. Kemana Rui Rasityo yang biasa? Who are you, really?’
Rui ikut tertawa, hari ini sudah ada dua orang yang bilang kalau dirinya nggak bertingkah seperti biasanya. Dan semua itu hanya terjadi kalau gue berada dekat Teno! Rui melirik melalui ujung matanya, menemukan sosok Teno sedang sibuk membersihkan bekas-bekas ice cream di sweaternya, rambut messy-nya begoyang, membuat Rui berdebar tanpa sadar. What’s wrong with me? Ia menggeleng. ‘Terus, kita mau ngapain duduk-duduk seperti ini? Don’t you have any idea about dating rules? Gue rasa nggak, mengingat lo yang datang terlambat seperti tadi’
Teno mendengus, sedikit geli dan kesal. Rui telah kembali menjadi pribadi yang mendominatif dan bossy. Ia berdiri, lalu berjalan cuek keluar dari Drops, membuat Rui kembali ternganga di kursinya. ‘Hei—wait! Lo mau kemana?’
Ia menoleh cuek kebelakang, amused, melihat Rui Rasityo yang biasanya angkuh dan dingin kalang kabut ngejar dirinya. ‘Gonna learn about dating rules, remembering I don’t have one. Mau ikut?’ Ia terkekeh melihat pipi Rui yang sedikit memerah. This is gonna be fun.

***

P.S = Did you notice the same name between this and Aredio-Tascha's?
Aredio's family name is Wiraga, and I'll write some stories of all the members of that family.
What I've been working on now is Alka Ramasira Wiraga', and it's a novel.
Maybe next time I'll post his story here :)

Tuesday, March 9, 2010

Just something I want to share.

Here it is.
This is may be a little weird, but I LOVE (with a capital L) writing.
I love to write everything. Stories, songs, poets.
But the thing is, my writing- I just haven't  finished them all.
There's too many ideas to catch up in my head, and when I started to write them, they're all gone =P
And now I want to share something - a story that I made just a week ago.
I haven't found the name yet, but please enjoy reading it.

*****


AREDIO AKBAR WIRAGA

Hey, girl what are you doing?
When I see your smile, it makes me smile
When I see your laugh, it makes me laugh
Everything about you makes me melt
And yes, that is the way I felt

Tascha Lestari, namanya. Mungil, looks fragile but tough in the same time. Kalo itu cewek lagi senyum, wuih, cantiknya. Periang, humoris, ngambekan. Kalo dia cemberut, tangan pasti nggak tahan kalo nggak nyubit pipinya. Lucu banget soalnya.
Cheerleader, good singer. Itu semua bener-bener bakatnya. Badannya enerjik banget kalo lagi nge-cheers. Suaranya sopran tapi nggak fals. Belum lagi kepandaiannya yang lain. Pinter masak, contohnya.
Kayak sekarang, dia lagi sibuk ngegosip di depan kelas gue. Bareng beautiful people Parama Institute, dia kan anak eksis. Sama sih kayak gue. But let’s back to the topic. Ekspresinya cepet banget berubah-rubah. Lucu. Tangan gue gatel buat fotoin dia pake kamera Nikon SLR yang lagi gue pegang ini. Well, gue kan anak fotografi.
Eh, temen gue, si Rata manggil. Panggilannya sih Raka. Tapi gue lebih suka manggil dia Rata, singkatan dari Raka Dipta. Penting banget gitu ngomongin Chelsea lawan Arsenal kemaren? Padahal gue kan lagi asik-asiknya ngeliatin Tascha. Tapi nggak apa-apa lah. Buat nyembunyiin salting gue yang lagi menjadi-jadi. Tascha ngeliat kearah sini soalnya..
***
TASCHA LESTARI

Hey boy
When will you realize?
That I am always here, beside you
Waiting for you to find me, my dream come true
And hoping that you need me too

Aredio Akbar Wiraga. Bagus banget ya namanya? Sebagus orangnya, dong. Rahang tinggi, hidung mancung, alis tebal, bibir pinkish. Manis. Tapi setau aku cuma cewek yang bibirnya pink kayak gitu. Mungkin karena dia nggak ngerokok ya? Nggak kayak temen-temen cowok aku yang lain.
Anak fotografi. Aku sudah pernah bilang belum, that he has a magic hand? Apapun kamera yang dia pegang, dari Lomo sampai Nikon, hasil fotonya selalu sempurna. Perfect. Punya  nyawa. Udah nggak kehitung berapa banyak ajang fotografi yang dia ikutin, terus selalu keluar jadi juara. Hebat ya?
Terus Aredio juga OSIS. Walaupun bukan ketua, pasti dia yang selalu gantiin ketua buat pidato di depan umum. Dia itu punya kharisma. Tegas, tapi lembut. Aku suka banget ngeliatin dia pidato, kesannya kayak dia itu bener-bener ngomong dari hati, bukan asal nyembur doang.
Oh iya, Aredio itu pinter banget main gitar sama piano. Suaranya juga nggak kalah bagus dibandingin sama permainan musiknya. Pengen banget duet bareng sama dia. Kayak Adni yang waktu itu duet bareng dia pas pensi. Sirik.
Tau nggak? Dari tadi Aredio ngeliatin aku mulu. Kenapa ya? Aku deg-degan nih, beneran. Tapi  nggak mungkin ah. Kali aja dia ngeliatin Sharika yang cantik banget di sebelah aku. Aku kan jadi patah hati.
Eh tunggu dulu, gimana ini? Kok tiba-tiba aja kepala aku noleh sendiri kearah Aredio? Nggak bisa lepas nih mata aku ngelatin dia. Cakep banget dia hari ini pake hoodie begitu..
***
RAKA DIPTA WILDANSYAH

“Well if you want to say yes, say yes
And if you want to say no, say no
Cause theres a million ways to go
You know that there are”
(If You Want To Sing Out – Cas Stevens)

Gue lagi kesel sama Dio. Sumpah, belakangan ini anak itu tambah korslet aja otaknya. Stres gue. Diajak makan bakso mesennya pizza, disuruh ngambil laptop ngambilnya DVD portable. Apalagi kalo si imut Tascha ada di deket kita berdua. Tambah ngepot aja otak ini anak. Nggak pernah bisa lepas mandangin Tascha. Such a dumb, isn’t he?

Kayak sekarang, Tascha lagi sibuk ngegosip di depan kelas Dio, dan gue ngeliat tatapan memuja yang lagi-lagi berasal dari kunyuk di sebelah gue. Padahal biasanya dia nggak pernah nyuekin gue kalo kita lagi ngomongin Chelsea sama Arsenal. Dio kan Arsenal sejati.

Menurut gue, Tascha memang imut. Tergolong cantik malah. Sama kayak Sharika dan gengnya. Tapi yah buat gue gitu-gitu aja. Nggak ada desir-desir aneh di hati gue waktu ngeliat Syafa lewat. So far, sih.  Tapi menurut Dio nggak. Tascha gini lah, Tascha gitu lah. Dikit-dikit Tascha.

Gue sering bingung. Gue yakin banget kalo Dio lagi jatuh cinta akut sama si Tascha. ‘Kenapa nggak lo tembak aja sana?’ kata gue waktu itu. Tapi dia dengan muka memelas bilang, ‘Tascha itu cantik, Ta. Pasti banyak banget cowok di luar sana yang suka sama dia. Selera Tascha juga pasti tinggi banget. Gue nggak yakin kalo gue masuk ke kriteria dia. Lagipula gue sama Tascha juga nggak saling kenal’. Gila, kan?

Sori ya, bukannya gue homo atau apa, tapi menurut gue, sobat gue ini lumayan. Buktinya, setiap kali gue sama Dio lewat, paling nggak separuh dari cewek-cewek di deket kita lagsung ngerapiin rambut, pasang apatuh namanya? Lip balm? Terus ngeliat Dio dengan muka mupeng (muka pengen) yang amat sangat. Separuhnya lagi ya ngeliat kearah gue. Gini-gini kan gue juga lumayan.

Terus masalah kenalan. Apa susahnya sih nanya nomer hand phone-nya Tascha ke Sharika? Gue sama Dio kan juga termasuk beautiful people di Parama Institute. Tinggal sms, kalo nggak nelfon deh, bilang ini dari Aredio. Pengen kenalan sama Tascha. Susah amat. Emang dasar otaknya aja yang udah keburu keriting kalo ngeliat ‘si-imut-Tascha’.

***

SHARIKA ADRIENNE


At first when I see you cry

Yeah, it makes me smile

Yeah, it makes me smile

At first I feel bad for awhile

But then I just smile

I go ahead and smile”

(Smile – Lily Allen)

 
‘Hey, Tascha? Earth to reality?’ ucap gue jutek plus sinis sama orang yang lagi asik daydreaming di sebelah gue ini. Yang dijutekin malah cengar-cengir. Tascha Lestari. My so-called friends, means half friend and other half enemies. Heran? Well, that’s just life in high school, dear. In a fake friendship like mine, I suppose.

Gue suka sebel sama Tascha. Cantik? Walaupun gue ogah banget ngakuinnya, Tascha emang cantik. Smart? She’s a genius! Jangan pernah mengharapkan Tascha turun dari lima besar. Gaul, eksis, famous? Iyalah, nggak mungkin nggak. Semua orang kenal dia. Semua yang nggak ada di gue ada di dia. As you know, maybe I’m better than her in social-life, anything but brain and reality. She’s perfect and everybody knows that.

Itu yang gue takutin sekarang. Tambah hari Tascha tambah terkenal, otomatis lingkungan pergaulannya nggak cuma sebatas di Parama Institute doang kan? I’m afraid of losing my queen-bee position. Yes, I’m the queen and you guys are my bees. So better keep out of my reach!

Denger-denger sih, Tascha fall in love with Aredio Akbar. Lo tau, one of the most wanted man in Parama Institute? Dan kabarnya Aredio juga suka sama Tascha. Unfortunately, mereka berdua takut to take a move. Dumbass. Menurut gue sih, Aredio Akbar terlalu bagus buat Tascha. Apa buat gue aja ya?

Well, there’s too many plan to catch up in my head. Tentu aja buat nyingkirin Tascha supaya dia nggak merebut posisi gue sekarang ini. Everybody wants to be me, right? Tapi jangan harap. Satu-satunya ratu di Parama Inst. cuma gue, dan Tascha nggak bakalan bisa ngerebut itu. Well, as they said, keep your friend close, but your enemies closer. And Tascha is absolutely one of my soon-to-be enemies. Fall for you, girlfriend!

***

Thanks for reading :)